Tentang Kita dan Jarak


Kita sama-sama tahu, kemarau yang dilalui bukan hanya sebatas tanah-tanah retak di teras rumah. Hujan yang ditadahi bukan hanya sebatas linangan rindu yang jatuh ke bumi. Lebih dari itu, kita lebih dekat menuju pintu langit yang berisi doa-doa, meski tanpa sua.


Kita sama-sama tahu, bagaimana perihnya saat jarak mencambuk jiwa-jiwa yang haus temu. Nelangsanya raga saat waktu mengurung kita kala rindu. Begitu bengisnya mencabik nurani, sampai luka itu tidak sengaja hadir lagi.


Kita sama-sama menerima, ketika kabar tidak selalu berkibar. Hanya bisa mengikat diri bersama sabar agar tidak berujung tengkar. Kadang, aku juga rindu bincang-bincang renyah untuk sekadar meredam resah.


Kita sama-sama menanti, kapan semesta menyejajarkan ruang dan waktu untuk kita. Mengeluarkan puluhan karung rindu untuk sebungkus peluk itu, biarpun menyedihkan dalam satu waktu.


Entah ujian atau titian harapan atau apapun namanya. Jarak tetap tidak bisa kita lipat seenaknya. Namun, jarak bukan ancaman bagi kita yang saling mengupayakan. Kamu harus percaya, rencana-Nya akan sangat indah seiring sabarnya kita.

Komentar