Lampu-lampu kota berpendar di sekeliling tubuhku. menyoroti perasaan yang telanjang

-malam ini aku lupa memasang kepura-puraan. aku biarkan mata gelandangan

menamparku, seperti gumpalan kertas yang dibuang.


Di antara hingar-bingar cahaya yang berkejaran,

aku tersisa sebagai satu-satunya kegelapan.

aku menyeduh puisi ini, menambahkan

calmomine mereda sisa tangis sialan.

lalu menuangkan keramaian, walau yang mengisi adalah barisan kesepian.


Aku menunggu orang asing kemari, menyematkan berita tentang sebuah pagi

yang belum pergi.

atau berbisik agar lebih erat membekap tangisan sendiri.

sial, ramai bukan salah satu jalan menuju kembali.


Aku tetap hancur,

digempur

luka yang seringkali muncul.

- Ardi Suryanto -

Komentar